Saturday, September 07, 2013

Cerita Putra-putra Nabi Adam dan Kronologi Jejak Manusia di Bumi


BAGAIMANA KISAH ANAK-ANAK NABI ADAM MEMBERI KITA PETUNJUK KAPAN PERSISNYA KISAH MEREKA MUNCUL PERTAMA KALI 

SABTU malam. Malam Minggu. Waktunya wakuncar bagi yang pacaran. Waktunya meratapi nasib bagi yang jomblo. Di pikiran saya malah terlintas kisah Nabi Adam dan putra-putranya. 

Anda tentu siapa Adam. Dalam agama samawi, dia dikatakaan sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan. 

Dalam tradisi Islam, ada cerita soal Adam yang mungkin sebagian besar umaat Islam sudah mengetahuinya. 

Adam dan Hawa melahirkan kembar dua pasang. Pertama lahirlah pasangan Qabil dan adik perempuannya, Iqlima. Kemudian menyusul pasangan kembar kedua Habil dan adik perempuannya, Lubuda.

Singkat cerita, Adam, atas petunjuk Tuhan,  hendak mengawinkan anak-anaknya. Qabil hendak dikawinkan dengan adik Habil yang bernama Lubuda; sedang Habil dengan adik Qabil yang bernama Iqlima.  

Qabil menolak perintah itu. Ia ingin dikawinkan dengan adiknya sendiri, Iqlima. Adam kemudian menyerahkan uurusan perjodhan itu pada Tuhan. Caranya, Qabil dan Habil harus menyerahkan korban kepada Tuhan dengan catatan bahawa barang siapa di antara kedua saudara itu diterima korbannya ialah yang berhak menentukan pilihan jodohnya.

Qabil dan Habil menerima baik jalan penyelesaian yang ditawarkan ayahnya. 

Habil datang membawa ternaknya, seekor kambing yang gemuk dan sehat. Sedangkan Qabil datang dengan sekarung gandum yang dipilih dari hasil cocok tanamnya yang rusak dan busuk. 

Kemudian diletakkan kedua korban itu--kambing Habil dan gandum Qabil--di atas sebuah bukit lalu pergilah keduanya menyaksikan dari jauh apa yang akan terjadi atas dua jenis korban itu.

Disaksikan oleh seluruh anggota keluarga Adam yang menanti dengan hati berdebar apa yang akan terjadi di atas bukit di mana kedua korban itu diletakkan, terlihat api besar yang turun dari langit menyambar kambing binatang Habil yang seketika itu musnah termakan oleh api. Sedang karung gandum kepunyaan Qabil tidak tersentuh sedikit pun oleh api dan tetap tinggal utuh.

Peristiwa itu dimaknai Tuhan lebih menerima persembahan Habil ketimbang Qabil. 

Cerita selanjutnya sebagian besar sudah tahu. Saya tak ingin melanjutkannya. Yang ingin saya tekankan pada beberapa poin dalam cerita di atas: 

1. Adam dan anak-anaknya. 
2. Kambing.
3. Gandum. 

Apa kaitan Adam beserta dengan kambing dan gandum? 

Begini, Adam manusia pertama di Bumi. Kita tahu Allah menciptakannya dan menurunkannya ke Bumi dan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka Bumi ini.  

Kapan sebetulnya manusia muncul menurut bukti-bukti ilmu pengetahuan atawa sains, perlu dijelaskan di sini sebagai awal diskusi kita.

Semua berawal sekitar tujuh juta tahun lalu, ketika berkembang suatu spesies mirip kera yang mampu bergerak secara bipedal, tegak. Antara tujuh dan dua juta tahun lalu banyak kera bipedal bermunculan. 

Di antara makhluk bipedal itu muncul satu spesies yang, antara tiga dan dua juta tahun lalu, berkembang dengan ukuran otak yang lebih besar. Di sinilah asal muasal genus homo, cabang pohon silsilah manusia yang tumbuh melalui Homo erectus yang akhirnya berevolusi menjadi kita, Homo sapiens. 

***

Di sini timbul lagi pertanyaan, kapan manusia seperti kita--Homo sapiens--muncul? 

Sebagian besar palaentropolog dan pakar genetika sepakat, manusia modern, kita atawa Homo sapiens muncul 200 ribu tahun lalu di Afrika. Fosil pertama ditemukan di Omo Kibish, Ethiopia. Bukti fosil tertua ditemukan di Israel yang membuktikan sekitar 90 ribu tahun lalu, manusia modern mulai keluar Afrika, bermigrasi menyebar ke berbagai tempat di Bumi. 

Dikatakan pula, sebagian kecil manusia modern meninggalkan Afrika pada 70 ribu hingga 50 ribu tahun lalu dan akhirnya menggantikan jenis manusia terdahulu, seperti orang Neandhertal. Di sini dominasi manusia modern di Bumi dimulai. 

Anda juga tentu tahu, sebelumnya manusia hidup dengan berburu dan meramu. Tak lama setelah pembesaran otak, nenek moyang manusia mulai mengenal perkakas paling awal sekitar 3 dan 2 juta tahun silam. Penggunaan perkakas berkembang terus, tapi manusia tak kunjung mengubah pola hidupnya dengan tinggal nomaden, berburu dan meramu.

Tapi, hidup manusia berubah sekitar 11 ribu tahun lalu. Sampai 13 ribu tahun lalu, sejak zaman es terakhir, manusia modern di seluruh dunia hidup dengan cara hidup yang sama: mereka berkumpul damlam kelompok kecil, tinggal dari satu tempat ke tempat lain, bertahan hidup dengan berburu binatang liar dan meramu tanaman.

Tapi sejak sekitar 11 ribu tahun lalu manusia mulai bosan hidup berpindah-pindah. Ah, bosan bukan kata yang tepat. Yang jelas, di masa itu ada keadaan yang membuat manusia hidup menetap. Dan ketika sekelompok manusia tinggal menetap, revolusi telah terjadi. Pola hidup manusia berubah total. 

Dari yang tadinya mengumpulkan tanaman menjadi bercocok tanam. Dari yang tadinya berburu hewan menjadi mengembangbiakkan hewan ternak. Buku Guns, Germs, and Steel(terbit pertama 1998, edisi Indonesia terbit Januari 2013) karya Jared Diamond menyebut satu kawasan di Asia Barat Daya yang disebutnya Bulan Sabit Subur, kawasan dekat laut Mediterrania, Turki, hingga Irak dan Suriah di Timur Tengah. Sekitar 8500 SM di kawasan Bulan Sabit Subur manusia melakukan domestifikasi paling awal. Di sana manusia bertani dan beternak. Boleh dibilang asal muasal peradaban manusia di mulai dari sini.          

***

Dari sini kita kembali ke cerita Adam dan putra-putranya. 

Harus saya terangkan dahulu, domestifikasi yang dimulai sekitar 8500 SM di Bulan Sabit Subur menandakan manusia di sana sudah mulai hidup menetap, mengenal pertanian dan beternak hewan. Manusia telah mengetahui bagaimana bercocok tanam. Gandum menjadi pilihan pangan utama. 

Selain itu, domestifikasi hewan berarti pula manusia telah mampu "menaklukkan" hewan-hewan liar untuk hidup berdampingan dengan mereka. Tidak semata untuk dimakan, tapi juga diberdayakan sebagai alat atau membantu hidup mereka. Di masa itu, manusia sudah hidup dengan kuda, sapi, kambing dan domba yang jinak. 

Nah, jika ditilik dengan cerita putra-putra Adam yang menyerahkan kurban "gandum dan kambing" untuk persembahan bagi Tuhan, bisalah kita duga kisah Adam dan putranya bermula tak sampai 10 ribu tahun lalu. Sebab, di masa itu manusia baru mengenal cocok tanam dan beternak. Sebelumnya manusia tinggal dengan berburu dan meramu.    

Atau, Anda pernah mendengar pada abad ke-17 Uskup Ussher memperhitungkan alam semesta, termasuk manusia pertama dfi dalamnya, tercipta sekitar 4004 SM, sebuah angka yang diperolehnya dari menjumlahkan usia tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama. Dicatat Stephen Hawking di esainya "Asal-Usul Jagat Raya" yang ditulis 1987 (muncul di buku Black Holes and Baby Universes [1993], saya baca edisi terjemahannya terbitan 1995) tahun penciptaan yang diturunkan dari Kitab Suci tidak begitu jauh dari saat akhir zaman es terakhir, yang secara ilmiah diduga sebagai awal munculnya manusia modern.    

Jadi, Adam baru muncul tak sampai 10 ribu tahun lalu? Bagaimana dengan sejarah panjang spesies bipedal yang muncul 7 juta tahun lalu? Apakah mereka "Adam" sebenar-benarnya? 

Teori evolusi memang tak pernah cocok dengan kisah yang diturunkan lewat agama. Perdebatan soal itu tak pernah selersai hingga kini dan menghasilkan dua kubu yang bertikai terus: di satu sisi kaum kreasionis, mereka yang percaya manusia diciptakan Tuhan seperti apa adanya saat ini dan menolak manusia satu keturunan dengan kera; di sisi lain penganut teori evolusi yang percaya manusia lahir dari perjalanan panjang evolusi.  

Di mana sebaiknya kita berada? 

Di lemari buku saya ada buku kisah para nabi yang dituturkan Hamka berjudul Hamka Berkisah Tentang Nabi dan Rasul (ditulis M. Saribi Afn, terbit pertama 1979, yang saya punya cetakan V, 1991). Jilid satunya berkisah tentang Nabi Adam. Saya kutipkan bagian yang saya suka dari pandangan Hamka yang moderat atas perbedaan sains dan agama terkait asal-usul manusia: 

"Adam menurut kepercayaan umum dalam agama adalah manusia pertama. Itu kepercayaan. Memang ada sementara penyelidikan ahli-ahli yang menyatakan bahwa Nabi Adam bukanlah manusia pertama. 

"Letak kepercayaan itu tentu saja lain. Dan ini bukan pula berarti bahwa kita tidak menerima penyelidikan-penyelidikan manusia lain ... Itu penyelidikan, biarlah orang terus melakukan penyelidikan.

"Dan karena penyelidikan itu belum habis-habisnya juga, tidak berarti kita lalu membuang kepercayaan agama.

"Mengenai Nani Adam sebagai manusia pertama ini tertulis dalam wahyu Allah, yang dituturkan kepada Rasul dan Nabi-nabi dalam kitab mereka.

"... (Y)ang tertulis dalam kitab-kitab suci itu kalau diselidiki dengan jiwa yang mendalam dan penuh iman, tidak kurang, malahan barangkali lebih nilainya, daripada apa yang pernah dihasilkan oleh ilmu pengetahuan."         

Hamka mempersilakan penelitian sains atas teori evolusi. Ia tidak hendak membantah sedemikian rupa--seperti dilakukan Harun Yahya, misalnya. 

Menarik pula fakta yang saya ditemukan di majalah Islam Madina edisi Januari-Februari 2009 yang mengulas 200 tahun kelahiran pencetus teori evolusi Charles Darwin. Mengutip tulisan penulis Muslim Jim Al Khalili di harian Inggris The Telegraph, diketahui, sekitar 1000 tahun sebelum Darwin mempublikasikan teori evolusinya, seorang ilmuwan di Baghdad, Irak, sudah memperkenalkan teori yang srupa. 

Orang ini bernama Abu Utsman al-Jahith (781-869), seorang ilmuwan asal Afrika Timur, berhipotesis tentang pengaruh lingkungan tehadap spesies. 

Kata al-Jahith:

"Hewan terlibat dalam perjuangan untuk mempertahankan diri; memperebiutkan sumber daya, mencegah dirinya menjadi mangsa dan berkembang biak. 

"Faktor-faktior lingkungan memengaruhi organisme untuk mengembangkan karakteristik-karakteristik baru untuk untuk menjamin keselamatan mereka, sehingga mereka berubah menjadi spesies baru. 

"Hewan yang selamat akan mewariskan ciri-ciri baru itu pada keturunan mereka." 

Teori itu sejalan dengan teori evolusi Darwin. Memang gagasan itu tak dilanjutkan pemikir Islam lain. Tapi suatu gagasan "radikal' seperti itu pernah tumbuh dalam peradaban Islam menandakan satu hal: Agama tidak menjadi penghalang melakukan penelitian ilmiah. Sains memperkaya pemahaman kita akan siapa kita di muka Bumi ini.***


BAHAN BACAAN

Jared Diamond, Guns, Germs, & Steel, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2013. 

M. Saribi Afn, Hamka Berkisah Tentang Nabi dan Rasul, Pustaka Panjimas, Jakarta, cet v, 1991.

Richard Leakey, Asal-Usul Manusia, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2007.

Stephen Hawking, Black Holes and Baby Universes, Gramedia, Jakarta, 1995. 

"Pengembaraan Manusia", James Shreeve, National Geographic Indonesia, Maret 2006.

"200 Tahun Darwin", Madina, Januari-Februari 2009. 

Monday, January 19, 2009

Loper Koran Jadi Jutawan

AGUS MISYADI: Loper Koran yang meraih Setengah Miliar dari Who Wants to be Millionaire

Oleh Ade Irwansyah

Pertanyaan: Bagaimana sang loper koran jadi jutawan?

MATAHARI belum lagi terbit. Sekitar jam 3 pagi, kebanyakan orang masih terlelap tidur. Namun, tak demikian buat Agus Misyadi (24), warga Kranggan, Jakarta Timur ini. Pada jam 3 pagi Agus mesti bangun untuk mulai bekerja. Sedini itu ia sudah harus berangkat ke Paceta Agency, agen koran yang dikelola kakaknya, Suratman, di dekat Pasar Cibubur, Jakarta Timur. Di sana kesibukan sudah dimulai. Koran, majalah, dan tabloid sudah berdatangan menunggu diantar. Agus mesti merapikan semuanya sebelum siap diangkut. Butuh waktu sejam buat Agus dan kakaknya merapikan tumpukan koran. Begitu selesai, Agus siap bekerja, mengantarkan koran pada pelanggan.

Jam 7 pagi, saat matahari sudah terbit, Agus baru selesai mengantar koran. Ia kembali ke Paceta Agency. Di sana sudah berserakan koran-koran yang tak laku dijual. Agus membacai koran-koran itu. Ia paling suka membaca berita iptek berikut sejarah penemuan atau nama penemunya. "Saya tertarik dengan berita-berita itu," katanya saat ditemui di rumahnya, Kamis (7/4) siang. Dari banyak membaca koran sisa, Agus jadi tahu banyak hal. Pengetahuan itu jadi modal baginya saat ikut kuis Who Wants to be Millionaire. Agus mendapat setengah miliar dari kuis itu.

Agus tak pernah menyangka bakal dapat rezeki sebesar itu. Tapi usahanya ikut kuis yang dipandu Tantowi Yahya itu terhitung keras. Pada 2000, Agus lulus dari STM Pangudi Luhur, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Tadinya, Agus lolos seleksi untuk langsung bekerja di Cikarang, Bekasi. Namun kesempatan itu tak diambilnya. Agus yang sekolah di STM berkat beasiswa bertanya-tanya apa bakal dapat beasiswa lagi untuk melanjutkan kuliah. Nyatanya, tidak ada beasiswa lagi. Sementara kesempatan untuk bekerja di Cikarang sudah tertutup.

Agus lantas merantau. Nasib membawanya diterima kerja jadi pramuniaga toko Indomaret di Cilegon, Banten. "Saya kerja di sana selama setahun," katanya. Pada 2001, Agus ke Jakarta. Ia kerja jadi pengantar air mineral di daerah Kota Wisata, Cibubur. Agus tinggal di mes karyawan yang disediakan majikan. Di tempat itu Agus tak kerasan. "Kerjanya tak pakai jam. Saya bisa kerja mengantar air dari pagi sampai jam sebelas malam," katanya mengeluh. Agus memutuskan berhenti.

Agus lalu tinggal bersama pamannya, Hariyadi Malik. Rumah pamannya amat sederhana. Pesawat teve pamannya masih hitam-putih. "Makanya, jarang dinyalakan," kata Agus. Dinding rumah itu juga belum dicat. Sehari-hari pamannya bekerja jadi staf administrasi kantor PLN, Kuningan, Jakarta Selatan. Saat pamannya bekerja, Agus menjaga rumah. Agus mulai bekerja pada kakaknya, Suratman yang jadi agen koran, awal 2002. "Salah satu loper koran kakak saya pulang kampung. Saya disuruh menggantikan," bilangnya. Agus bukannya malas mencari kerja. Berkali-kali melamar, panggilan kerja tak kunjung datang. Suatu kali, ia mendatangi biro jasa pengerah tenaga kerja untuk jadi pelayan di kapal pesiar asing. "Namun biayanya mahal. Saya juga disuruh buat paspor dulu," ujar pria kelahiran Wonogiri, 7 Maret 1981 ini.

Dari tabungannya, Agus membeli telepon genggam. Oleh kakaknya, ia digaji 300 ribu rupiah setiap bulan. "Setiap bulan saya sisakan 100 ribu buat beli voucher handphone," bilang Agus. Yang ada di benaknya, untuk dapat uang agar bisa bekerja di kapal pesiar, lewat kuis Who Wants to be Millionaire. Kuis itu menghadiahi uang sampai 1 miliar rupiah bagi yang jadi pemenangnya. Pada pertengahan 2003, Agus mulai rajin menelepon nomor telepon premium call buat yang ingin ikut kuis itu. "Sekali menelepon, bisa habis 25 ribu," ungkapnya.

Agus tentu tak setiap pekan menelepon. Ia tak punya cukup uang untuk itu. Paling hanya sebulan sekali ia menelepon. Tekadnya mengubah nasib dengan jadi pelayan kapal pesiar tetap ada. Makanya, sambil sesekali menelepon, Agus rajin membaca koran-koran sisa hantarannya. Ia yakin suatu kali bisa ikut kuis itu. Kalau menang uangnya akan dipakai membuat paspor dan mendaftar jadi pelayan kapal pesiar.
Butuh waktu panjang hingga Agus dipanggil RCTI. Menurut produser Who Wants to be Millionaire, John Fair Kaune, setiap peserta kuis dipilih secara acak oleh komputer. "Siapa saja yang menelepon ke nomor premium call kami akan dipilih oleh komputer," katanya pada Bintang, Rabu (6/4) lalu. "Seminggu bisa sampai 1000 penelepon," lanjutnya. Dari angka itu, komputer mengacaknya jadi 50 orang. Lalu dikecilkan lagi hingga tinggal 20 saja. Nah, sampai di situ, staf RCTI yang menelepon tiap calon kontestan. "Mereka kami audisi dengan cara menelepon. Mereka kami beri pertanyaan," bilang John. Jika tak bisa menjawab, kontestan dianggap gagal. Calon kontestan baru diambil dari sisa penelepon yang ada.

Nah, komputer yang mengacak setiap orang yang ingin ikut kuis baru berpihak pada Agus sekitar Januari lalu -- atau setelah lebih dari 1,5 tahun terus mencoba. "Waktu orang RCTI menelepon, saya hampir tidak lolos karena menjawab salah. Untung di pertanyaan terakhir saya menjawab dengan benar," kata Agus. Setelah lolos audisi Agus berhak ikut kuis. John ingat betul bagaimana Agus saat menjawab pertanyaan yang diajukan Tantowi. "Dia nggak sekadar pintar. Dia bisa menjawab karena banyak membaca," ujar John.

Memang demikianlah yang dilakukan Agus. Hari-harinya dihabiskan dengan membaca koran. Menjelang ikut kuis, sekitar akhir Januari lalu, Agus makin giat membaca. Tak cuma sisa koran hari itu, tapi juga koran-koran lama yang menggunung di tempat kakaknya. "Malam sebelum ikut kuis, saya buat catatan nama-nama penemu. Kayak anak sekolah belajar mau ulangan saja," cerita Agus.

Cara itu terbukti jitu. "Dia menjawab dengan tenang. Hanya orang yang benar-benar tahu saja yang bisa menjawabnya," tutur John penuh kesan. Sayangnya, ketenangan Agus hilang pada pertanyaan terakhir yang bernilai 1 miliar. "Saya sudah nggak kebayang. Gugup," kata Agus menceritakan perasaannya saat itu. Agus mengaku pertanyaan seputar penelitian yang meraih Nobel Fisika 1928 memang tak dikuasainya. "Saya nggak menghapal siapa saja peraih Nobel," akunya. Akhirnya, Agus mundur.

Selembar cek bernilai setengah miliar rupiah di tangannya. Sejak hari itu Agus jadi jutawan. Kendati sudah jadi jutawan, tak banyak orang tahu. Kakak dan pamannya baru tahu belakangan. Orangtuanya, Umar dan Inah, sampai kemarin belum tahu kalau anak mereka ketiban untung dapat setengah miliar rupiah.

Sebagaimana lazimnya kuis, ada pajak hadiah bagi pemenang. Agus pun tak menerima utuh setengah miliar rupiah. "Saya terima sekitar 350 juta rupiah," ungkapnya. Uang sebanyak itu, kata Agus, takkan dipakainya membuat paspor. Niatnya jadi pelayan kapal pesiar sudah diurungkan. "Sekarang saya ingin kuliah lagi," ucap Agus sambil berujar akan mengambil jurusan desain grafis. Sisa uangnya, katanya, akan dipakai membiayai adik bungsunya, Yuliani, kuliah. Jika masih tersisa juga, Agus belum tahu uangnya akan dipakai untuk apa. Agus masih bingung. Sampai kini, ia masih jadi loper koran membantu kakaknya. "Kalau nanti sudah tahun ajaran baru, saya akan daftar masuk kuliah," katanya. Hingga kini, Agus belum punya pacar. "Kemarin saya masih menganggur. Malu kalau punya pacar," akunya lugu. Kini Agus mulai berniat untuk punya pacar. "Nanti mungkin, kalau sudah kuliah saya akan cari pacar," katanya lagi sambil tersenyum malu. Ada yang mau jadi pacar pria yang baru dapat setengah miliar rupiah? ***


BINTANG INDONESIA, No.729, TH-XV, MINGGU KEDUA APRIL 2005, p.12


Sunday, November 09, 2008

Bond's Girls

Cewek-cewek James Bond

Ini kejadian nyata di tahun 1962. "Kalau saja tidak silap," kata si empunya cerita Guntur Soekarnoputra pada majalah Jakarta Jakarta. "Yang pasti, waktu itu saya baru lulus SMA dan sedang sibuk ngalor-ngidul mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB)." Kala itu, adik Guntur, Megawati meneleponnya ke Bandung, memintanya segera pulang ke Jakarta lantaran diminta sang ayah, Soekarno, presiden pertama RI itu. "Bapak cuma pesan supaya Mas pulang ke Jakarta, karena Jumat malam ini mau diputar film bagus cerita spion," bilang Megawati. Cerita spion maksudnya kisah intrik spionase. Malam harinya, Guntur penasaran. Ia tak habis pikir ayahnya memaksa pulang ke Jakarta hanya untuk menonton film. "Pasti ada yang istimewa di film itu," pikirnya. Syahdan, Guntur pulang ke Jakarta keesokan harinya.

Sewaktu menjabat sebagai presiden, Soekarno punya kebiasaan menonton film di ruang film istana saban Jumat dan Sabtu malam. Soekarno beserta keluarga nonton bareng dengan warga Istana -- entah pengawal, staf rumah tangga Istana, pelayan-pelayan, staf dapur istana plus anak-anak dan istri-istri mereka. Kala itu, sebelum pertunjukkan dimulai tepat jam 9 malam, Guntur bertanya pada staf istana perihal filmnya. Yang ditanya hanya menjawab: "Wah, Mas, film ini pokoknya begini (sambil mengacungkan ibu jarinya). Tembakan sama berkelahi terus-terusan… dan perempuannya hampir-hampir telanjang, Mas!"

"Mau telanjang, mau nggak, kek, gimana nanti! Tapi filmnya apa namanya?" tanya Guntur penasaran.

"Apa ya, Mas? … Jimbon ... Jimbon gitu!"

"Huuh! Jimbon-jimbon, emangnya permen bon-bon."

Yang dimaksud Jimbon adalah James Bond. Malam itu di istana diputar film pertama kisah James Bond, DR. No (1962). Guntur ternyata begitu menyukai filmnya. Ia tak menyesal datang jauh-jauh dari Bandung untuk menontonnya. "Pokoknya film itu bukan main, Pak," jawabnya saat ditanya sang ayah kelar menonton.

Bukan cuma Guntur yang terkesan begitu pertama kali menonton film James Bond. Pun demikian dengan jutaan penduduk bumi lainnya. Film James Bond pertama yang rilis lebih dari 40 tahun lalu itu masih ditonton orang hingga kini. Dan oh, siapa yang bisa lupa salah satu adegan di Dr. No kala seorang perempuan seksi menyembul dari laut, berjalan penuh gaya menuju pantai, menenteng kerang, bersenandung Underneath the Mango Tree. Tubuh moleknya cuma dibalut bikini putih nan minim -- yang untuk ukuran tahun itu dianggap kelewat vulgar. Itulah Honey Ryder (diperankan Ursula Andress), cewek seksi yang tengah mengumpulkan kerang laut. Ia dianggap sebagai cewek pertama James Bond (diperankan Sean Connery), agen rahasia Inggris berkode 007.

Film James Bond tanpa cewek Bond? Tak mungkin!
Akan terasa hambar bila sebuah film James Bond tanpa "cewek-cewek Bond." Ibarat makanan tanpa garam. Bersama senjata-senjata canggih dan mobil-mobil keren, cewek-cewek Bond seolah bahan dasar yang mesti ada dalam setiap film James Bond. Karakter James Bond yang seorang playboy kelas berat selalu dikelilingi wanita-wanita cantik di setiap aksinya.

Tapi, boleh percaya atau tidak, film pertama James Bond bukanlah produksi kolosal nan mahal. Bujetnya tak sampai 1 juta dollar. Maka, untuk memerankan sosok cewek Bond, produser Albert Broccoli mencari "aktris cantik yang tak dikenal, yang takkan menuntut bayaran tinggi." Sampai 3 minggu sebelum syuting mulai, pemeran cewek Bond belum ketemu. Sampai datanglah Ursula didorong suaminya kala itu, John Derek ikutan kasting. Suaminya percaya kemolekan Ursula amat pas buat peran cewek Bond. Dan ternyata benar demikian. Selain itu, Ursula juga mau dibayar murah, tak sampai 10 ribu dollar.


Sejak Ursula jadi Honey Ryder, cewek-cewek Bond datang silih-berganti. Namanya aneh-aneh. Kalau Honey terdengar tak cukup aneh, coba cermati nama-nama berikut: Pussy Galore (di film Goldfinger, 1964), Domino Derval (Thunderball, 1965), Kissy Suzuki (You Only Live Twice, 1967), Tracy di Vicenzo (On Her Majesty's Secret Service, 1969), Solitaire (Live and Let Die, 1973), Mary Goodnight (The Man With the Golden Gun, 1974), Holly Goodhead (Moonraker, 1979), Octopussy (Octopussy, 1983), Stacey Sutton dan May Day (A View to a Kill, 1985), Xenia Onatopp (Goldeneye, 1995), Christmas Jones (The World is Not Enough, 1999), hingga Jinx (Die Another Day, 2003).

Cewek bond mesti seksi?
Selain bernama tak lazim, cewek-cewek Bond umumnya bertubuh molek. Ini rasanya jadi jualan utama film-film Bond. Hal ini juga diakui seorang cewek Bond. Saat ditanya TV Guide apa syarat jadi cewek Bond, Luciana Paluzzi, pemeran Fiona Volpe di Thunderball (1965) bilang seorang artis dipilih jadi cewek Bond "karena penampilannya." Seorang cewek Bond lain, Lana Wood (Plenty O'Toole di Diamonds Are Forever, 1971) menimpali, "Cewek Bond tuh mesti cantik dan berkaki panjang dari sini sampai sini (Lana menunjuk dari tanah sampai leher)."

Nah, lantaran menjual keseksian, cewek-cewek Bond sempat dikecam kaum feminis. Mereka dituding merendahkan martabat wanita. Sebenarnya, bila dicermati lebih jauh, cewek-cewek Bond tak hanya merelakan tubuhnya bagi si agen rahasia penyuka vodka-martini itu. Mereka juga mandiri, dan malah sering jadi penjahat tangguh yang membuat Bond (baca: lelaki) kewalahan. Pussy Galore, misalnya, bisa menerbangkan pesawat dan dan jago judo. Sedang sosok seperti Tracy di Vicenzo membuat Bond sang playboy luluh dan bersedia menikahinya. Hal demikian utamanya berlangsung di film-film Bond era 1970-an. Kala itu, wanita mulai menuntut haknya untuk disamakan dengan pria. "(Penggambaran cewek Bond yang tangguh) cermin tahun '70-an. Saat itu kami (wanita) mulai menentukan nasib sendiri. Dan saya bangga jadi bagian yang menggambarkan masa-masa itu," kata Jill St. John (Tiffany Case, Diamonds are Forever). Tapi Jill tak lupa menyelipkan kalimat, "Saya tetap ingin terlihat glamor."

Menginjak 1980-an, kala Bond diperani Roger Moore dan Timothy Dalton, cewek-cewek Bond terkesan cuma jadi "cewek pelengkap penderita." Bond hadir bak pahlawan yang siap menolong teman wanitanya. Cewek Bond tampil jadi tempelan. "Sebenarnya tak menyenangkan jadi hiasan saja. Sebagai aktris, itu bukan peran impian," kata Maud Adams, pemeran cewek Bond di The Man in the Golden Gun dan Octopussy.

Kini, cewek-cewek Bond terlihat sama tangguhnya dengan Bond. Wai Lim (diperankan Michelle Yeoh) di Tomorrow Never Dies seorang agen rahasia nan perkasa dari China. Pun demikian dengan Jinx (Halle Berry) di Die Another Day yang seorang agen NSA, dinas rahasia AS. Tapi, sekali lagi, tentu saja tangguh saja tak cukup. Cewek Bond mesti tetap seksi. Perihal ini dialami Berry saat syuting Die, 2002 lalu. "Pengarahan yang saya terima cuma 'Jadilah seksi,'" bilang Berry, cewek Bond yang juga peraih Oscar. Dan Berry tampil seksi.

Tahun ini, lewat film Bond teranyar, Casino Royale sebutan cewek Bond disematkan pada aktris Italia Caterina Mulino (pemeran Solange) dan Eva Green (pemeran Vesper Lynd). Kalau dihitung-hitung dalam 21 film Bond resmi dan 2 tak resmi, Bond sudah mengencani sekitar dua lusin wanita. Kira-kira bagaimana bila cewek-cewek Bond itu bertemu lagi dengan Bond. Maud Adams punya jawabnya, "Kami akan minta dia tanggung jawab, 'Hei, ini anak harammu.'" Ah, ada-ada saja. * ade/berbagai sumber

Terkutuk Jadi Cewek Bond
Sejarah membuktikan jadi cewek Bond malah berujung pada masalah karier. Seolah-olah peran itu punya kutukan. Namun, tak selamanya begitu. Diana Rigg (On Her Majesty's ..) malah makin bersinar. Tapi, bagaimana dengan yang lain? Entertainment Weekly suatu kali menilai karier sejumlah cewek-cewek Bond sebelum dan sesudah main film James Bond.

· Denise Richards (Chrismats Jones di Tomorrow Not Enough)
Sebelum Bond: Starship Troopers, Wild Things.
Sesudah Bond: Segala urusan perceraiannya dengan Charlie Sheen.
Mending mana? Sebelum jadi cewek Bond.

· Ursula Andress (Honey Ryder di Dr. No)
Sebelum Bond: Kencan dengan Marlon Brando dan menikahi John Derek.
Sesudah Bond: Main versi pertama Casino Royale dan Clash of the Titans.
Mending mana? Seri.

· Honor Blackman (Pussy Galore di Goldfinger)
Sebelum Bond: Main serial The Saint dan The Avengers.
Setelah Bond: Main teater dan muncul di Bridget Jone's Diary.
Mending mana? Sebelum jadi cewek Bond.

· Halle Berry (Jinx di Die Another Day)
Sebelum Bond: Dapat Oscar lewat Monster's Ball.
Setelah Bond: Catwoman dan Gothika.
Mending mana? Sebelum jadi cewek Bond.

Dimuat BINTANG INDONESIA, No.813, TH-XVI, MINGGU KETIGA NOVEMBER 2006.


Daniel Craig's James Bond

Menghidupkan James Bond yang Lain

“Saat pertama kali dapat peran itu, orang sering tanya, ‘Apa kau sudah mengucapkan kalimat itu?’” ujar Daniel Craig pada Entertainment Weekly. “Terus terang, saya tak berlatih khusus tiap hari di depan cermin atau semacamnya. Saya bahkan tak mau memikirkan bagaimana mengucapkannya, karena itu cuma akan menambah beban saya. Yang saya ingin lakukan hanya segera mengucapkannya dan tak mengacaukannya.”

Kalimat yang dimaksud tak lebih dari 6 kata—“The name is Bond, James Bond”—tapi entah ada berapa banyak aktor yang ingin mengucapkannya. Sudah 5 aktor berkesempatan mengucapkannya—Sean Connery (6 kali), George Lazenby (1 kali), Roger Moore (7 kali), Timothy Dalton (2 kali), dan Pierce Brosnan (4 kali). Craig ditasbihkan jadi aktor keenam yang mengucapkan kalimat paling dikenal dalam sejarah perfilman itu. Craig adalah James Bond. Entah Anda setuju atau tidak.

Ya, saatnya berhenti berdebat apa Craig pantas jadi agen dinas rahasia Inggris MI6, penyuka vodka martini yang punya ijin membunuh berkode 007 itu atau tidak. Saatnya tak peduli kalau ia pirang, dan bukan kecoklatan seperti Bond lain. Terlalu pendek. Tak pantas pakai jas tuksedo. Tak setampan Bond lain dan sebagainya. Cukup. Filmnya sudah keluar. Rasanya, kalau ditanya apa Craig lebih suka vodka martini-nya diaduk atau dikocok, ia kira-kira bakal jawab, “EGP, emang gue pikiran.”

Jadi, mari kita bicarakan filmnya saja. Casino Royale film Bond resmi yang ke-21 setelah Die another Day rilis 4 tahun lalu. Syuting dimulai di Praha, Republik Ceko, pada 30 Januari lalu. Setelahnya, syuting berlangsung berturut-turut di Karlovy Vary (juga di Ceko), di kepulauan Bahama, dan Venisia di italia, sebelum akhirnya ke Inggris. Sudah jadi ciri khas film-film Bond disyut di tempat-tempat eksotis di dunia. Tapi, pembuatnya menjamin, tempat-tempat itu dipilih murni karena kebutuhan cerita. Bukan hanya ingin pamer panorama indah di layar lebar.
Bond kembali ke asal
Menurut seorang produsernya, Michael G. Wilson, Casino Royale adalah kisah James Bond yang begitu ingin dibuat versi filmnya oleh Albert “Cubby” Broccoli dan Harry Saltzman, duet produser yang pertama mengangkat kisah Bond ke layar lebar. Casino Royale adalah novel Bond pertama Ian Fleming yang terbit 1953. Versi filmnya pernah rilis pada 1967 dengan nuansa komedi, melenceng dari pakem yang dicipta Fleming. “Hak cipta filmnya baru kami miliki pada 2000. Sejak itu kami godok naskahnya,” buka Wilson.

Ia lantas menjelaskan ingin membawa sosok Bond kembali ke asal. “Kita telah sama-sama lihat film-film Bond melewati berbagai perubahan,” jelas Wilson. “Di tahun ’70-an sosoknya makin besar dan fantastis sampai puncaknya kami buat Moonraker (1979), hingga ke luar angksa. Lalu, kami kembalikan lagi ia ke bumi di tahun 1981 lewat For Your Eyes Only. Di tahun 2002, Die Another Day teknologi kembali memuncak, dan saatnya ia membumi lagi, dengan sosok yang baru, lebih dingin, saatnya kita lihat bagaimana ia dapat kode 00 dan memulai misi pertamanya sebagai agen MI6.” Karenanya, di Casino Royale, Bond lebih mengandalkan ketangguhan tubuhnya ketimbang peralatan canggih yang biasa diberi Q, ilmuwan rekan Bond.

Menonton Casino Royale, serasa menonton Batman Begins tempo hari. Ada kenikmatan saat tahu bagaimana segalanya berawal (“Oh, jadi begitu mengapa mobilnya Aston Martin” atau “Hm, jadi itu mengapa ia suka vodka martini”). Bond versi Craig seolah memberi jawab bagaimana sosok Bond lain yang diperankan Connery, Lazenby, Moore, hingga Brosnan bermula.
Craig dinilai paling cocok
Brosnan yang berumur lebih dari 50 tahun rasanya sudah terlalu uzur buat jadi Bond di awal kariernya. Maka, pencarian Bond baru dimulai. Sederetan aktor disebut-sebut bakal menggantikan Brosnan. Ada Hugh Jackman, Ewan McGregor, Jude Law, hingga Clive Owen. Nama yang kurang dikenal seperti Henry Cavill (Tristan & Isolde) dan Goran Visnjic (ER) konon sempat dites buat jadi Bond. Tesnya sederhana saja, menurut Wilson. “Saat kami mengetes aktor yang bakal jadi Bond, kami minta ia membawakasn dialog dari From Russia with Love (film Bond kedua, rilis 1964), saat Bond pertama kali bertemu Tatiana Romanova,” ungkap Wilson. “Adegan itu memenuhi setiap unsur yang kami inginkan dari orang yang pantas jadi Bond—drama, romantis, dan aksi.”

Dan ternyata, Craig paling memenuhi syarat buat jadi Bond menurut pembuat filmnya. “Pada sosok Daniel, kami temukan Bond modern. Dia bisa melakukan pekerjaan dengan hebat. Perannya membutuhkan banyak aksi, dan Daniel tangguh. Selain itu, perannya juga memberi tempat pada drama yang dialami manusia, dan Daniel seorang aktor hebat,” tutur Wilson memberi alasannya mengapa memilih Craig, bukan yang lain. Tuh, ‘kan? Pembuatnya tak merasa salah pilih. Jadi, buat apa pusing-pusing atau protes bilang tak setuju.

Apalagi, setelah melihatnya filmnya, kita mungkin tak yakin kalau Brosnan—yang sekali lagi sudah uzur—sanggup berjumpalitan di proyek konstruksi bangunan tinggi seperti awal film Casino Royale. Bagian awal film itu makin menegaskan kalau Bond sebuah produksi kolosal. Bujetnya saja besar, 150 juta dollar. Maka, hasilnya pun spektakuler.

Tantangan menghidupkan film Bond
Di mata pembuat filmnya, paling sulit membuat adegan rumah runtuh di Venesia. Hal itu diungkap Peter Lamont, production designer Casino Royale. “Tak diragukan lagi, itu tantangan terberat,” kata pria yang sudah jadi kru 8 film Bond ini. Interior bangunan dibuat di studio 007 di Pinewood Studio, Inggris. Sementara exteriornya sungguh disyut di Venesia, di pinggir kanal, bersebrangan dengan pasar Rialto. Pemerintah lokal di sana sudah mengijinkan Lamont menenggelamkan pipa-pipa penyedot air (agar efek semburan dahsyat muncul begitu bangunan tenggelam) dan menghentikan perahu berlalu-lalang sementara waktu. Tapi, tetap saja, bangunan yang runtuh mesti dibuat dari model efek khusus di studio. “Tim efek khusus membuat rig yang bagus untuk kami,” kata Lamont.

Adegan itu bukan satu-satunya yang disyut di tempat berbeda. Adegan kerja-kejaran Bond dengan tersangka teroris, Mollaka dimulai di sebuah ruangan di Praha, lalu ke Bahama. “Padahal di ceritanya berlangsung di Madagaskar,” seru Lamont. Tempat yang dinamai Casino Royale sendiri aslinya cuma disyut bagian depan dan lobi hotelnya saja di Karlovy Vary. Interior sisanya, termasuk kamar hotel dan ruang judi kasino, dibangun di studio.

Tantangan lain saat adegan pesawat yang coba diledakkan teroris dibuat. Lamont mendatangi pabrik pembuat pesawat, mencari pesawat yang bisa diledakkan. Sayang, ia tak dapat pesawat dari pabriknya. “Mereka mungkin tak mau pesawat model baru mereka ketahuan dan ogah pesawatnya diasosiasikan dengan pembajakan teroris,” duga Lamont. Solusinya, “Kami buat model baru biar terhindar dari masalah dengan pabrik pesawat,” katanya. Sebuah pesawat 747 tua lantas dibeli, dirombak jadi lebih mirip pesawat B52.

Itulah film Bond, Casino Royale. Pembuatnya sudah bersusah payah menyuguhkan yang terbaik buat memanjakan kita. Craig sudah membuktikan diri pantas menyandang nama Bond. Dialah Bond, James Bond. * ade/berbagai sumber

Dimuat BINTANG INDONESIA, No.814, TH-XVI, MINGGU KEEMPAT NOVEMBER 2006.



Monday, November 26, 2007

Quickie Express

Oleh Ade Irwansyah

Saya datang ke bioskop dengan pikiran yang sudah teracuni. Sebuah review di multiply teman bilang “ada yang kurang di film ini.” Teman lain bilang filmnya lamban. “Awalnya ketawa-ketiwi, tapi lama-lama lawakannya basi,” begitu kira-kira ucapannya.

Ah, biarlah. Toh, I never take it for granted.

Dan ternyata, di mata saya: Quickie Express tak buruk-buruk amat!

Syahdan, tersebutlah seorang pria bernama Jojo (Tora Sudiro dalam penampilan tak ubahnya di Extravaganza). Ia seorang pecundang sejati. Di usia 27 tahun, Jojo belum punya pekerjaan tetap. Hingga, takdir mempertemukannya dengan Mudakir (Tino Saroenggallo), seorang “pemburu.” “Pemburu”? Ya, Mudakir berprofesi sebagai “pemburu” pria yang akan diajaknya bekerja di restoran pizza Quickie Express. Restoran pizza ini cuma kedok. Aslinya, pria-pria pengantar pizza itu adalah pelacur lelaki alias gigolo.

Kemudian kita diajak berkenalan dengan 2 calon gigolo lain yang seangkatan dengan Jojo, Marley (Amink, N.B: lihat anak kalimat usai nama “Tora Sudiro” di atas) dan Piktor (Lukman Sardi).Sumpah, 2 orang ini tak ada potongan buat jadi gigolo. Ah, ini mungkin bisa-bisanya si pembuat film saja.

Kita lalu diajak melihat Jojo, Marley, dan Piktor menjalani hari-hari sebagai gigolo.

Berbagai jenis “pelanggan” mereka layani. Dari seorang guru (Ria Irawan rocks!) sampai istri pejabat. Tentu, kemudian cerita berkembang pada persoalan pokok dengan Jojo sebagai tokoh utamanya. Kisahnya tergolong klise malah. Jojo akhirnya jatuh cinta pada seirang wanita baik-baik (diperankan pendatang baru Sandra Dewi yang bikin gemas). Di lain pihak, seorang tante girang (Ira Maya Sopha rocks too!) tak bisa lepas dari Jojo. Ia juga cinta mati pada Jojo.

Terus terang, tak perlu penonton pintar untuk menebak apa yang terjadi kemudian: gadis lugu yang dicintai Jojo ternyata anak dari tante girang yang juga mencintainya. Jika Joko Anwar, penulis skenarionya, menuturkan konflik filmnya sampai di sini saja, dengan tegas saya beri nilai buruk buat film ini. Beruntung, Joko penulis jempolan. Sesuatu yang kita kira bakal berakhir klise, ia twist jadi sesuatu yang mengejutkan. Di akhir filmnya, ada kejutan-kejutan yang membuat kita tertawa sekaligus terperangah (maaf, saya tak mau jadi spolier!).

Hal di atas rasanya jadi faktor utama mengapa saya bilang film ini tak buruk-buruk amat. Namun demikian saya juga setuju, awalnya film ini mengajak ketawa dan saya juga ketawa dibuatnya. Tapi, lama-lama saya lelah. Pasalnya, Joko terlalu semangat memberi sentuhan komedi pada film ini. Apa yang disebut bagian ”pendahuluan film” (jika menganut teori skenario 3 babak) dibeberkan terlalu panjang. Hingga, saat film menginjak bagian ”konflik” dan ”solusi konflik” penonton sudah kelelahan.

O ya, banyak juga komentar soal gaya ’80-an yang terlihat menonjol di film ini sementara apa yang kita lihat di era 2000-an juga tetap nongol. Apa Dimas Djayadiningrat, sutradaranya nggak konsisten? Ah, buat saya sih tidak. Film ini tetaplah berseting masa kini. Atribut ’80-an sekadar style (konon Dimas menyebutnya sebagai tribute buat film-film Warkop di tahun '80-an). Pilihan yang cocok mengingat film ini mendefinisikan dirinya bergenre “komedi”—komedi dewasa, tepatnya. Dan rasanya Dimas adalah pilihan cocok buat menyutradarai film yang mengandalkan “style” macam begini. Sayang memang, pada akhirnya yang menonjol dari film ini adalah “style” ketimbang penceritaan. Ya, saya yakin, usai menonton Anda bakal lebih ingat gaya pakaian pria-pria pengantar pizza Quickie Express ketimbang moral ceritanya.***

Quickie Express (2007)
Sutradara: Dimas Djayadiningrat
Skenario: Joko Anwar
Pemain: Tora Sudiro, Amink, Lukman Sardi, Ira Maya Sopha, Sandra Dewi, Rudy Wowor, Tio Pakusadewo
Durasi: 117 menit